Tampilkan postingan dengan label A Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A Journey. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 September 2013

Goa Batu Cermin , Labuhan Bajo


Labuhan Bajo, kota yang beberapa tahun terakir menjadi sangat terkenal karena di sana merupakan satu-satunya akses terdekat menuju Taman Nasional Pulau Komodo dan Pulau Rinca, malam itu pukul 21.00 setiba di Labuhan Bajo yang pertama saya lakukan adalah mencari penginapan, adalah penginapan cahaya mandiri yang terletak tidak jauh dari pelabuhan labuhan bajo yang menadi pilihan saya waktu itu. cukup murah sewanya, hanya 35000 rupiah satu malam, Rumah kayu dua lantai dengan bagian belakang langsung menghadap laut yang sedikit kotor, sayang. Mungkin hampir semua orang yang datang ke labuhan bajo bertujuan untuk menikmati Taman Nasional Pulau Komodo dan keindahan bawah lautnya, tak heran jika sepanjang jalan soekarno-hatta labuhan bajo berjejer counter counter dive resort yang hampir semua dive resort tersebut dimiliki warga negara asing, anj*ng. Otak saya tidak begitu berbeda dengan sebagian orang yang datang kesini, saya ingin ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca.

Sabtu, 02 Maret 2013

Cagar Alam Pananjung


Langit masih begitu gelap ketika suara keras dari sopir bus membangunkan kami pagi itu, mata yang masih ingin terlelap pun akhirnya kami paksakan untuk melirik keluar jendela bus tersebut, pool bus Budiman Pangandaran, ini berarti kami sudah sampai di pangandaran. Setelah sebelumnya kami berlima berangkat dari bandung sekitar jam 9 malam, sungguh 7 jam perjalanan yang hanya berlalu dalam mimpi. Tujuan kami petang itu sebenarnya adalah pantai pangandaran, setelah naik angkot selama 5 menit, tibalah kami di terminal pangandaran. sejenak milupakan kicauan orang orang diterminal petang itu, kami menuju ke sebuah minimarket untuk membeli semacam logistic.

Tampak di depan kami sebuah gerbang selamat datang, kami diberi brosur peta wisata pangandaran, setelah melihat brosur dan sedikit berdiskusi akhirnya kami putuskan untuk menuju pantai pasir putih yang berada di taman wisata alam pangandaran atau orang lebih sering menyebutnya cagar alam penanjung, kami berjalan sekitar 5 km untuk menuju pintu gerbang penanjung, tibalah kami di gerbang wisata alam penanjung yang waktu itu masih belum ada penjaganya, artinya kami gratis masuk ke penanjung.
Rusa di Cagar Alam
Sekelompok rusa tampah sedang bermain di tepian pantai, gradasi pantai pasir putih yang pagi itu masih begitu segar dengan ombak ombak kecil yang menghantam gugusan karangnya terasa begitu indah, pagi itu aku sholat subuh sejenak di tepian pantai sementara teman teman mempersiapkan sarapan pagi, ketika beberapa diantara kita mempersiapkan alat snorkeling,

Kamis, 21 Februari 2013

Potret Perbatasan

“Ah, Indonesia memang sudah merdeka. Tapi kami ini, lihatlah…“

Akhir tahun 2012 lalu, saya berkesempatan menginjakkan kaki di daerah perbatasan Indonesia dan Malaysia di Pulau Kalimantan, tepatnya di Kabupaten Malinau yang merupakan kabupaten terluas di Kalimantan Timur. Luas wilayah Kabupaten Malinau sebesar 42.620,70 km2 dengan persentase 17,38 persen dari luas wilayah Kalimantan Timur. Untuk sampai ke Malinau, saya naik pesawat komersial Lion Air dari Jakarta ke Tarakan, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan pesawat “Cessna B208 Grand Caravan” Susi Air yang hanya bepenumpang 8 orang dari Tarakan ke Malinau selama 30 menit.


Tidak banyak yang bisa dilihat dari Kabupaten Malinau, hanya toko-toko kecil yang tidak terlalu ramai. Tetapi gedung-gedung pemerintahan yang seperti layaknya istana boleh dibanggakan oleh kabupaten ini. Gedung-gedung pemerintahannya megah dengan taman yang luas ditambah fasilitas olah raga seperti stadion dan gelanggang olah raga. Dan saya merasa sedikit aneh melihat kota dengan penduduk tak terlalu banyak seperti ini.

Saat itu, tujuan saya ke Malinau adalah untuk urusan pekerjaan, yaitu Site Investigation Survey Telkomsel atau perluasan jaringan telekomunikasi di wilayah perbatasan. Di Malinau, saya berburu tiket pesawat Susi Air Malinau ke Long Ampung. Memang cukup sulit mendapatkan transportasi ke daerah “long”, selain belum adanya transportasi di darat, transportasi udara pun hanya seminggu sekali. Setelah beberapa hari menunggu dan meminta bantuan pegawai Dinas Perhubungan setempat, akhirnya saya mendapatkan tiket ke Long Ampung.

Selasa, 12 Februari 2013

Eksotisme Ujung Selatan Jawa

Sore itu 29 April 2011 dengan sedikit terburu-buru akhirnya kami presentasikan rangkaian operasional perjalanan kami di depan teman-teman Sekretariat, dua ransel 28 lt waktu itu sudah saya isi penuh dengan perlengkapan camp dan logistik. Segera saya nyalakan mesin motor untuk melakukan perjalanan ke ujung selatan tanah Jawa Barat ini, bersama seorang teman bernama Diana perjalanan kami mulai ketika matahari di ufuk barat sudah hampir tenggelam, entah kenapa saya lebih suka perjalanan malam untuk urusan traveling.

Sekitar dua jam melewati kemacetan dan hembusan asap knalpot Kota Bandung, perjalanan kami telah sampai di Kota Cianjur. Motor terus melaju kencang melewati Desa-desa kecil disepanjang jalan antara Kota Cianjur dan Sukabumi , sampai akhirnya tibalah kami di keramaian Kota Sukabumi. Well , saatnya isi perut. Ayam bakar seharga 15rb rupiah menjadi santapan malam kami waktu itu.

Perjalanan belum usai , berdasarkan beberapa sumber yang kami tanya jarak dari Kota Sukabumi ke Ujung Genteng sekitar 100km lagi, belum ada alasan untuk mencari homestay atau mendirikan dome disini. Perjalanan kami lanjutkan malam itu , roda motor terus berputar menggilas habis jalanan menuju Ujung Genteng, ditemani trek yang berliku-liku, menanjak, menurun, dan terkadang dijumpai jalan yang rusak dan kanan kiri jalan ini memang berupa hutan yang cukup lebat.

Tak terasa tiga jam berlalu, motor mulau berjalan melambat dan mata saya melirik jam tangan yang saya kenakan, jam menunjukan pukul 23.30. Malam itu kami putuskan untuk mencari tempat istirahat, disebuah warung sate kambing mesin motor kumatikan untuk selanjutnya memesan kopi, sebuah alibi untuk memulai pendekatan dengan si pemilik warung agar dapat tempat istirahat gratis. Setelah ngobrol ngalor ngidul akhirnya kami dipersilahkan bermalam di warung air mata ibu, yang terletak di Jl.Cirangkong Sukabumi.


warung air mata ibu

Mentari pagi mulai muncul menembus celah celah kecil warung ini, setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan, destinasi pertama kami adalah Curug Cikaso sebuah air terjun kembar yang terletak tak jauh dari Surade, kembali trek yang berliku-liku, menanjak, menurun, dan jalan yang rusak mengiringi perjalanan kami menuju Curug Cikaso. Terbelalak mata saya ketika melihat 3 air terjun ini berjejer menyamping. Sambil menikmati percikan buih air terjun kami mendirikan camp persis di depan air terjun ini. Sungguh menarik melihat lulut lumut menyelimuti tebing tebing disekitar air terjun yang memiliki ketinggian 50 meter ini. Derasnya air terjun membentuk kubangan yang luas namun tetap dengan kejernihan airnya.


Curug Cikaso

The Beauty of Labuan Bajo

Terletak di bibir laut dan mempunyai pelabuhan yang dapat dipastikan akan ramai kedepanya, pelabuhan yang tidak terlalu besar namun dapat dikatakan fasilitasnya sangat lengkap. Dari pelabuhan ini saja mataku sudah dimanjakan dengan pulau-pulau kecil sepanjang mata memandang, hotel, resort, café pun dapat dengan mudah didapatkan di sepanjang jalan sekitar pelabuhan. Imajinasi saya tiba tiba melayang dan membayangkan saya sedang venezia, italia. Namun sepertinya harus ditunda dahulu sebab menurut saya kota ini belum siap.


Labuhan Bajo dari Bukit

Labuhan bajo, kota disepanjang pantai barat pulau flores ini umumnya berbukit, bangunan berjejer memenuhi bukit seperti layaknya di lembang, dengan akses jalan tak terlalu besar melingkar menghuungkan sebua sudut kota. Di jalan utama kota ini terdapat banyak sekali tour agent, sayang sekali hampir semua yang saya singgahi bukan milik orang Indonesia #dafuck. Wajar saja semua orang yang ingin ke pulau komodo atau rinca wajib singgah dikota ini.

Minggu, 10 Februari 2013

Sebuah Perjalanan Kecil Mengalunkan Kemerdekaan


Kemerdekaan Indonesia adalah sebuah perjuangan yang panjang. Alam Indonesia, sebagai salah satu entitas yang diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa ini, telah menjadi sebuah tempat bagi mereka para pejuang, untuk mengabdikan segenap jiwa dan raga di saat berkecamuknya perjuangan meraih kemerdekaan. Sebagai seorang insan yang menghargai itu, sungguh layak bagi kita untuk menghayati bahkan mencari cara untuk lebih menghadirkan makna “perjuangan” di benak diri. Maka tak ayal kami akhirnya memutuskan untuk mencoba lebih memahaminya dengan merasakan sebuah perjuangan. Perjuangan kecil yang kami tujukan untuk tanah air ini, yaitu pendakian Gunung Semeru. “
Pos Perijinan Ranupane
Pendakian gunung yang terletak di Kabupaten Malang dan Lumajang adalah salah satu gerakan kecil kami untuk mengejawantahkan kata “perjuangan” tersebut. Adalah suatu hal rutin yang jamak dilakukan beberapa khayalak umum dan kalangan pecinta alam bahwa setiap tanggal 17 Agustus di Gunung Semeru, diadakan sebuah upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi kami sendiri, ini adalah pendakian pertama kami ke Gunung Semeru, gunung yang terkenal menghadirkan panorama yang “eksklusif” bagi para pendakinya.

Rabu, 30 Januari 2013

Ciremai and Mom , You're Everything


jumat 20 juni 2011 , handphone saya bergetar ketika sedang makan sing di kantin kampus. tak disangka salah satu dosen ternama dikampus putih biru mengajak saya berkunjung ke Gunung Ciremai weekend itu. dengan ditemani Dina Nasution tak butuh waktu lama saya segera menyiapkan beberapa peralatan camp dan alat pribadi serta sesegera mungkin saya memepersiapkan surat jalan dan rencana operasional perjalanan.


Gunung Ciremai

Sabtu 21 juni 2011 , setalah semua siap datanglah kedua dosen kami yaitu Bp.Mamad Rohmat dan Bp.Jondri menjemput kami di sekretariat Astacala, untuk segera meninggalkan kampus IT.Telkom untuk menuju ke sebuah desa lumayan besar di kaki gunung ciremai yaitu desa linggarjati.

Senin, 31 Desember 2012

Mengunjungi Sang Penjaga Kearifan Padjajaran


Terhenyak ketika saya membaca tentang kisah Kerajaan Pakuan Padjajaran. Bagaimana arus balik meluluhlantakkan kerajaan ini. Prabu Surya Kencana dengan arifnya tetap bertahan menjaga idealismenya dan tak kenal gentar meskipun ia harus lari ke daerah hutan bersama para perwiranya. Konon sang prabu dan pengikut setianya harus tinggal di tanah itu, Baduy namanya.

Rasa penasaran mencuat di ubun-ubun saya dan ingin rasanya saya pergi ke tanah Baduy. Siang hari itu, diawali obrolan ringan di kantor dan rasa penasaran terhadap Kerajaan Padjajaran saya mencoba mengajak beberapa kawan jalan ke pedalaman Suku Baduy.

Akhirnya ide yang sempat terbisik di pikiran saya mengunjungi suatu suku di pedalaman tanah Baduy pun disetujui mereka. Dari hasil obrolan tersebut akhirnya keesokan hari malamnya saya dengan tiga orang teman berangkat menuju Kota Rangkas di Banten, mengunakan kereta tua jurusan Jakarta – Rangkas. Dari stasiun kami berjalan menuju alun-alun Kota Lebak. Pada malam itu maksud hati ingin tidur di Masjid Agung Kota Lebak, tetapi gerbang masjid terkunci rapat. Akhirnya malam hari itu kami habiskan dengan menginap di Masjid RS. Adjidarmo.

Ketika subuh mencuat kami terbangun bersama dengan beberapa orang yang bersiap untuk sholat subuh di masjid itu. Rombongan kami pun mulai packing dan meninggalkan masjid menuju pasar untuk membeli beras dan ikan asin yang konon menjadi menu favorit warga Baduy. Lalu dari pasar kami menumpang angkot menuju Terminal Aweh. Sesampainya di terminal pagi itu setelah menempuh 15 menit perjalanan sebuah mobil Elf bertuliskan ‘Rangkas-Ciboleger’ sudah gagah menunggu di sana. Desa Ciboleger adalah gerbang terdekat untuk mengunjunggi perkampungan Baduy. Beberapa jam menunggu Elf pun masih diam di tempatnya, sampai akhirnya ketika jarum jam menunjukan jam 11 mobil baru menyusuri jalan menuju Ciboleger.


 Terminal Aweh, terminal untuk menuju Ciboleger